
Hari ini, gue menghadapi dan belajar tiga hal secara langsung masalah sederhana dalam dunia entrepreneurship. Gue udah tahu banget masalah ini merupakan masalah dasar yang ada di berbagai macam buku entrepreneurship, psikologi, dan pengembangan diri. Kemampuan ini pun harus mampu dikuasai oleh semua orang, bukan seorang entrepreneur saja. Oleh karena itu, gue pikir ini layak untuk ditulis. Ya, Seperti judul tulisan ini, skill itu adalah kemampuan berkomunikasi interpersonal.
Sekadar sharing aja, pertama, masalah yang gue hadapi hari ini adalah emosi mitra wirausaha gue yang naik karena adanya perbedaan pendapat dalam hal evaluasi perhitungan margin, biaya, dan harga jual dengan perbandingan usaha orang lain yang sudah lebih dulu beroperasi. Mungkin ini terlihat sepele, tapi andai saja salah satu ga ada yang memilih untuk tenang, bisa dipastikan usaha yang dijalin bersama-sama dengan mitra gue akan amblas gitu aja kaya pup yang dibuang tiap pagi.
Ini adalah pelajaran pertama, seorang entrepreneur harus dapat bersikap tenang dalam hal apapun, kapanpun, dan dimanapun.
Kedua, gue menghadapi orang yang bersikap 50:50 dalam menjalani suatu usaha. Gue pikir ini salah gue juga, karena awalnya gue berhutang sama dia, dan uang pengembaliannya itu gue jadikan modal baru bilang sama orangnya supaya mau join usaha gue. Solusi yang terpikir dalam benak gue adalah bertanya gimana pendapatnya tentang kelanjutan dia dalam usaha ini. Ya.. ga usah di tanya lagi, jawabannya ragu-ragu dan ga yakin sama sekali.
Pelajaran kedua, jangan pernah memaksa orang untuk bermitra dengan kita sekalipun ia adalah orang potensial dan teman terdekat lo. Komunikasikan keinginan mitra usaha lo agar usaha lo bisa berkelanjutan.
Terakhir, kayanya semua orang pernah menghadapi orang semacam ini, gue menghadapi orang yang selalu membuat konsep, janji, but untuk teknis dia bilang semua terserah kita. Sedangkan dia susah dihubungi dan diajak ketemu. Yaa, kaya gini sih kita juga pernah berbuat hal yang sama. Tapi satu pertanyaan gue, apa yang lo lakukan untuk menangani orang seperti ini disaat lo lagi serius? Jawabannya pasti udah pada tau, yaitu bersikap tegas. haahh. Kalo gue tadi, jujur masih kurang tegas karena dia itu salah satu teman yang patungan untuk membuat usaha bareng gue. Yah, bisa ditebak deh, intinya gue ga ketemu dia sama untuk ngomong serius at least for 10 minutes.
Pelajaran ketiga, seorang entrepreneur harus bisa brsikap tegas, dapat diandalkan dalam hal teknis, dan negosiasi.
Itu semua adalah masalah komunikasi yang gue hadapi dalam menjalankan usaha. Gue hanya mencoba berbagi dan menarik kesimpulan pembelajaran dari masalah ini. Maaf kalo ada statement menggurui. Thanks udah baca and see ya!
Filed under Entrepreneurship
Seorang mahasiswa seharusnya berpikir tentang jawaban kegelisahan yang ada, bukan menjadi aktivis yang sok cerdas dan telah memberikan kontribusi yang besar. Mahasiswa seperti itu akan menjadi sampah bagi dirinya dan masyarakat setelah lulus dalam arti yang khusus.
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah berupa rasa lelahnya badan, rasa lapar yang terus menerus atau sakit, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan masa sekarang, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan masa lalu, gangguan orang lain pada dirinya, sesuatu yang membuat hati menjadi sesak sampai-sampai duri yang menusuknya melainkan akan Allah hapuskan dengan sebab hal tersebut keslahan-kesalahannya.”
HR. Bukhori no. 5641, Muslim no. 2573 dengan redaksi yang sedikit berbeda (مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ)
Setiap manusia memiliki pemikiran, tujuan, dan keputusan yang berbeda-beda. Untuk mencapai tujuan dari pemikirannya, alat yang digunakan sangat beragam, salah satunya adalah organisasi. Berbicara tentang organisasi, banyak sekali kategori mengapa organisasi itu terbentuk, dimulai dari kesamaan gaya hidup atau status sosial anggotanya, keserasian latar belakang pemikirannya, satu visi-misi dll.
Dalam dunia perguruan tinggi, hal tersebut sangat menonjol sekali. Setiap mahasiswa berusaha mencari organisasi yang sama dengan identitas diri atau minatnya. Memang organisasi memberikan manfaat yang tidak sedikit, diantaranya adalah perluasan rekan kenalan baru dari ruang lingkup internal hingga eksternal dan penguatan keilmuan yang menjadi fokus suatu organisasi.
Namun, kekurangan pun tidak dipungkiri pasti ada. Terutama organisasi yang belum lama terbentuk. Organisasi tersebut terkadang hanya mendahulukan eksistensi daripada esensi, contohnya pengadaan even. Memang bukanlah hal yang buruk karena keberadaan organisasi itu harus diakui dan dikenal.
Tapi satu hal pertanyaan yang mengganjal : jika eksistensi telah didapatkan, apa pengembangan keilmuan akan diperhatikan secara menyeluruh? Sementara budaya regenerasi dan penyontohan pengurus lama terhadap pengurus baru itu susah diubah. Ditambah lagi stagnansi pemikiran pengurus baru yang sulit melakukan perubahan.
Dalam pandangan penulis, seharusnya organisasi yang terbentuk menjalankan 70% kegiatannya untuk pengembangan esensi keilmuan, team building organisasi, dan penguatan budaya regenerasi yang baik. Sedangkan 30% diperuntukan untuk eksistensi sebagai pengakuan organisasi itu ada. Karena apabila esensi (penguatan organisasi, keilmuan dll) telah baik maka eksistensi dapat mudah dikembangkan. Pengakuan secara keseluruhan pun akan datang seiring terdapat suatu kualitas yang baik dalam diri suatu organisasi.
NB : Semua pendapat didasarkan keadaan organisasi yang diamati penulis secara observasi langsung berjangka waktu satu tahun dan bertempat di kampus penulis di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta. Jika terdapat saran dan hal yang ingin didiskusikan, penulis membuka tangan kecuali terhadap hal-hal yang berbau sara dan provokasi.
Satu bulan telah berakhir, sebuah bulan yang paling suci bagi kaum muslim di seluruh dunia. Penuh ampunan, rahmat, dan paling dinantikan dibandingkan dengan sebelas bulan yang lainnya.
Hari ini telah disempurnakan kebaikan, dilunturkan semua keburukan, dan beriringnya rasa gembira yang syahdu.
Hari ini adalah awal untuk mencari kemenangan yang hakiki, kemenangan melawan diri sendiri. Bukan untuk esok dan bukan juga bukan nanti. Namun sampai jiwa raga ini meraih kesempurnaan kesucian selama hidup.
Suci itu terlahir, rahmat itu menyelimuti, dan tawa mengiringi.
Selamat hari raya Idul Fitri 1432 H.
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّ وَ مِنْكُمْ صِيَمَنَا وَ صِيَمَكُمْ كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ
Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin.